Katanya siy ipad :D

March 28, 2014 § 3 Comments

Malam itu daku bereskan lembaran gambat berikut buku kliping kurcacis di satu tempat. Ketika membereskan lembar gambarnya Teteh, seketika Teteh melihat sebuah gambar dan langsung berkomentar, “Ambu….ini ipadnya Teteh (gambar dengan spidol pink), ini ipadnya Cica (gambar dengan spidol ungu).”

20140327-075514.jpg
Hahaha daku geli melihatnya…rasanya antara “Teteh kreatif sekali” dan “Gusti, karunya pisan yang kepingin punya ipad.”πŸ˜€

Beberapa tahun lalu, kami sempat berencana membelikan tablet untuk anak-anak. Tapi selalu terulur karena ada kebutuhan prioritas. Sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk tidak memiliki tablet sama sekali karena makin banyak hal yang memperkuat alasan kami itu.
Kertas bergambar ipad ini bukan yang pertama kali dibuat oleh Teteh. Sebelumnya Teteh pernah membuat 3 ipad, 1 untuk dirinya sendiri dan 2 lagi untuk kedua adiknya. Selain tablet, Teteh juga memiliki sehelai kertas bergambar yang katanya siy itu adalah handphone Teteh, seperti handphonenya Ambu.πŸ˜€

Menanggapi hal itu, Abah pun berkomentar, “Kalau kita belikan tablet…apa mereka bisa berimajinasi lagi seperti itu? Kok kayanya akan melepas sisi kreatif anak-anak.”
Ya…kami menikmati mereka bertiga bermain bersama, mengeluarkan semua mainan, dan terkadang alat dapur ikut digunakan. Yang menarik disitu adalah saat dimana mereka mengeluarkan imajinasinya. Rumah berantakan? Sudah pasti……disitu kita bisa sekaligus mengajarkan tentang tanggungjawab kepada mereka. Alhamdulillah, di sekolah mereka diajarkan tentang hal itu…yang lebih menyenangkan mereka diajarkan menyimpan barang yang sudah mereka gunakan sambil diiringi sebuah nyanyian-“simpan simpan simpan milikmu.” Memang siy belum rapi dan dibereskan seadanya…kudu berbesar hati karena itu bagian sebuah proses.πŸ™‚
Lalu…ditambah penjelasan saat seminar parenting di TK Kelinci tentang pengaruh media elektronik kepada anak. Katanya begini….big no no memberikan gadget khusus untuk anak. Mengapa? Anak akan berkuasa penuh terhadap gadget tersebut. Bagaimana pun juga anak perlu dikontrol oleh orang tuanya. Contoh kasus yang dialami oleh teman saya….anaknya diberikan tablet dan koneksi internet yang bebas digunakan di rumah tujuannya supaya anak anteng. Akibatnya? Tablet diberi password, orang tua tak boleh tahu apa passwordnya, dan yang lebih mengerikan….dia mengajak adiknya yang paling kecil menonton film xxx melalui tablet tersebut. Miris😦 Ada juga yang memberikan tablet dari anak berumur 1 tahun. Sekarang anaknya berumur 4 tahun dan merengek dibelikan laptop karena tabletnya udah sering ngehang. Wah? Efek kecanduan sehingga membutuhkan bentuk media lain?
Pembicara pada seminar parenting tersebut menyampaikan tentang kontrol kuat di rumah orang tua terhadap penggunaan gadget dan perlunya pengawasan orang tua ketika anak menggunakan gadget tersebut. Usia aman bagi anak boleh menggunakan gadget adalah 13 tahun, tapi walaupun dianggap aman, masih perlu dilakukan pendampingan orang tua ketika anak menggunakan gadget atau media elektronik lainnya. Selain itu penting memberikan batas waktu ketika anak menggunakan gadget atau media elektronik lainnya. Mengapa? Efek candu…anak bisa lupa dengan hal yang lebih penting.
Ini kasus yang kualami…..anak-anak asyik menonton film. Daku beberapa kali mengingatkan kepada mereka tentang jam makan tapi mereka tak mengindahkan dan sampai pada saatnya waktu untuk beristirahat dan mereka belum makan. Saat itu mereka menangis karena lapar. Hihi daku rada saklek ya…daku tak mengizinkan mereka makan di waktu istirahat tujuannya supaya mereka tahu konsekuensi dan tahu waktu. Yatapi Abahnya ga tega ngeliat anaknya pada kelaparan alhasil dikasi seuprit nasi sebelum mereka istirahat. :p Tapi gegara itu mereka mulai belajar kapan waktunya makan, kapan waktu istirahat, kapan waktu bermain.
Lalu kasus Kei yang sempat setengah hari bermain games online, dia tahu dengan sendirinya dong….judulnya siy kids games tapi teuteup pukul-pukulan. Saat diminta untuk menghentikan gamesnya itu dengan alasan dia lupa makan dan minum, Kei marah bukan main. Perilakunya agresif dan mulai melawan pada kami. Aaaah cukup sekali saja itu terjadi. Semenjak itu, kalau Kei sudah berada didepan laptop, kata kunciku adalah…sudah minta izin atau belum untuk menggunakan laptop. Jika sudah diberi izin, daku berikan jam tangan kepada dia dan mengingatkan kalau waktunya dari jam sekian sampai jam sekian. Kalaupun daku tak mendampingi, Abah yang mendampingi atau sesekali daku lihat….tapi kudunya siy didampingi terus. Ajaibnya dia patuh, jika waktu sudah habis dia menghentikan aktivitas di depan laptop. Dari sini daku menyadari betul bahwa jadi orang tua harus kreatif, harus ada aktivitas penggantinya kan.πŸ˜€

Alasan kuat lainnya adalah pemaparan sang instruktur brain gym ketika kami mengikuti tahap akhir dari program MOTyB sekolah Tetum Bunaya. Gimana katanya? Masa-masa golden age ketika anak beusia dibawah 7 tahun, adalah masa perkembangan pesat pada otak anak. Perkembangan ini perlu didukung oleh stimulasi motorik anak melalui panca inderanya. Stimulasi yang bagus adalah stimulasi dengan benda real/objek 3 dimensi bukan dengan objek 2 dimensi. Dan betapa pentingnya stimulasi ini karena berujung kepada pengintegrasian otak manusia alias otak kanan dan otak kiri juga pematangan otak depan manusia yang baru terjadi pada saat manusia berusia 25 tahun.
Wow! Setelah dipikir kembali dengan kondisi sekarang ini…iya juga ya. Kasus sederhana terjadi pada Cica. Ia dengan lancar memainkan puzzle pada handphoneku. Tapi begitu diberi kotak puzzle sungguhan, dia stress dan cenderung frustasi. PR buat kami niy….agar Cica belajar mengendalikan emosinya. Dan terlihat bedanya, di handphone anak dengan mudah menggeser-geser keping puzzle melalui sentuhan jari, sedangkan pada puzzle sungguhan dia harus memegang keping puzzle, kemudian memutar keping sesuai bentuknya dan kemudian menempatkan puzzle tersebut dengan tepat. Luar biasa manfaat permainan puzzle *sungguhan* ini kepada anak, menstimulasi motoriknya sekaligus menstimulasi anak dalam memecahkan sebuah masalah. Kasus lain adalah ketika acara kumpul bersama, entahlah acara keluarga ataupun acara komplek. Anak-anak cenderung tenggelam dengan gadgetnya atau media elektronik lainnya daripada berinteraksi satu sama lain. Anak menjadi pasif, asyik sendiri daripada berkumpul bersama teman lainnya. Adalagi tambahan kasus, berkaitan proses menulis anak…goresan tulisan cenderung tidak tegas, gaya tubuh ketika menulis tidak tegak, dll. Proses menulis, didukung kekuatan bahu, pergelangan tangan, dan jari. Oh jadi itu sebabnya di TK ada tiang bergelantung, ada kegiatan meremas kertas, kegiatan mencocok kertas, dll. Semua kegiatan itu menggunakan benda 3 dimensi dan berfungsi mendukung anak ketika dia menulis, yang idealnya dilakukan saat anak berusia 7 tahun.

Ooh ada artikel pendukung lain disini.

Ini ceritanya kok minus sisi positif media elektronik dan gadget ya hahaha. Bukan bermaksud menyingkirkan sisi positif media elektronik dan gadget ya, toh kurcacis juga masih suka nonton dan main di laptop atau melalui handphone kami. Intinya siy penggunaan media elektronik dan gadget di era generasi Z ga bisa lepas dari kehidupan manusia….tapi perlu kontrol kuat orang tua, dampingi anak, dan batasi waktunya. SekianπŸ˜€

Semoga kalian mengerti alasan kami ya Nak, semuanya kami lakukan untuk kebaikan kalian.πŸ™‚

ps. Terharu melihat ipadnya Cica…disitu ada Ambu ya Teh? :’)

Tagged: , , , , , ,

§ 3 Responses to Katanya siy ipad :D

  • Hery Harjono says:

    Benar Gina, kita memasuki zaman digital dimana otak kiri dipacu agar mampu merebut tempat “terhormat yang semu” yang serba materialistis. Padahal semua itu fatamorgana. Sangat mengkhawatirkan. Betapa keringnya hidup. Lihat saja berita-berita media yang menakutkan dan manusia mulai berperilaku spt di rimba belantara. Anak-anak digiring seperti robot tanpa banyak orang tua menyadarinya. Mereka seperti mesin. Gejala itu sudah Ykung lihat ketika harus mengoreksi tulisan-tulisan para junior. Ide-idenya mandeg. Semua serba tergantung pada yang bernama mesin-mesin yang benama laptop, tablet, Ipad….. Jelajahilah laut, gunung-gunung, langit, hutan (Lihat Ali Imran 190-191). Telusurilah kehidupan pinggiran yang tercampakkan…(Sudah dengar bagaimana umat Nabi Musa menunggu Tuhan..?). Nanti kalau Teteh, Kei dan Kinza sudah “siap” Ykung cerita. Ok, lain kali kita jelajahi hutan dan berkemah (tidak lagi di halaman depan he he he).

    Ykung

  • herliana05 says:

    Wah untungnya feli malah lbh suka ber interaksi dgn teman2nya ketimbang tablet, walaupun dia sdh punya khusus sejak usia 2thn hehehe. ini tantenya yg beliin bkn emaknya ya

    • Dirimu kocak Her, pakai catatan segala, “yang beliin bukan emaknya.” :))
      Aaaaah syukurlah, ternyata Feli lebih menyukai naluri alamiah seorang anak yaπŸ˜€
      Kita ya meni belum pernah ketemuan :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Katanya siy ipad :D at Napak Tilas.

meta

%d bloggers like this: