Perjalanan Mencari Sekolah

March 23, 2014 § 2 Comments

Seminggu ini penuh cerita tentang sekolah. Apalagi tentang pencarian SD…hahaha merasakan bagaimana perjuangan mencari SD untuk Kilaaya. Eh ralat…untuk Kurcacis ding supaya ga ada rivalry siblings hihi. Belum lagi dipusingkan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang sekarang ini beraneka macam, selain SDN ada sekolah bertaraf internasional, sekolah yang berbasis montessori, berbasis multiple intellegence, menganut kurikulum IB/ Cambridge, dan sekarang mulai booming home schooling dan lain-lain.
Ohiya…menanggapi pertanyaan pusing nyari SD atau sekolah, menurut versi kami adalah:

1. Harapan orang tua terhadap anak….ingin menjadikan anak yang bagaimana?
Setiap orang tua memiliki harapan yang berbeda terhadap anaknya. Sesuaikan harapan kita itu dengan visi dan misi sekolah. Contohnya kalau kita berharap anak menjadi penghafal Quran, masukkan anak ke sekolah SDIT atau pondok pesantren.
Hihi kalau di jamanku kecil, sepertinya banyak orang tua yang mengharapkan anak bernilai bagus dan masuk ke sekolah favorit. Jadi nilai rapot, ranking, dan nem adalah segalanya. Masih ingat ketika kelas 2 pernah menduduki ranking 19 dan habis “diomelin” dan berujung kudu benerin jadwal harian, jam main dibatasi, selebihnya belajar dan mengaji. Triwulan berikutnya langsung menclok di ranking 6 hahaha. Begitu naik kelas 3 sampai kelas 6 selalu menduduki ranking 3 besar. Sudah pasti menjadi kebanggan orang tua, dan setiap kumpul keluarga acara “membanding-bandingkan” ranking tiap anak adalah bagian dari pembicaraan antar orang tua. Jujur itu ga enak. Emang siy kita jadi termotivasi untuk menjadi lebih baik lagi, ga mau mengecewakan orang tua. Tapi setelah dipikir lagi….apa yang dilakukan hanya untuk membuat orang tua bahagia, tanpa memandang apakah itu juga membuat diri kita sendiri bahagia. Memang siy membahagiakan orang tua adalah kewajiban tapi alangkah indahnya jika diri kita pun bahagia.๐Ÿ™‚
Mungkin kalau daku ga “bertemu” dengan Toto Chan, daku pun akan mengharapkan punya anak yang pintar dan akan berorientasi pada nilai. Udah kebat-kebit ngelesin anak ini-itu mulai dari batita.
Kami berdua betul-betul mencari sekolah Toto Chan. Sekolah dengan metode bermain dan belajar, menjadikan anak sesuai potensi anak masing-masing. Di rumahku ada 3 anak dengan ciri masing-masing, tapi yang lebih kentara adalah perbedaan 2 anak, yang 1 senang menggambar dan lebih senang mendengarkan, yang 1 aktif diskusi dan suka sains. Setiap anak bagi kami harus tetap dikembangkan potensinya…sehingga mereka melakukan sesuatu dengan value. Baru ketika anak-anak di TK, kami mengetahui kesenangan yang berbeda dari setiap anak. Dan ketika mencari SD, kami pun memilih sekolah dengan kriteria bisa mengembangkan potensi masing-masing anak.

2. Bahasa pengantar sekolah
Ini juga pasti jadi catatan setiap orang tua ketika mencari sekolah. Balik lagi harapan orang tua terhadap anak berkaitan dengan penguasaan bahasa seorang anak. Kami tetap memilih sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar agar mereka menghargai arti berbahasa satu-bahasa Indonesia. Tentang bahasa internasional lain…in sya’ Allah mereka dengan keinginannya sendiri akan belajar bahasa lain.
Ohiya jadi teringat kasus yang dialami oleh teman saya. Ia memasukkan anaknya di bilingual school. Sedangkan di rumah yang diterapkan hanya 1 bahasa. Anaknya itu sempat stress karena tidak bisa mengikuti ritme di sekolah. Kendalanya ya bahasa. Beda halnya kalau di rumah ia menerapkan pola 2 bahasa. Stress pada anak bisa diminimalisir.

3. Jarak sekolah
Jarak rumah ke sekolah itu penting. Kalau kita mencari sekolah yang jaraknya dekat, menjauhi kemacetan Jakarta. Tujuannya menghindari anak stress di jalan.

4. Biaya
Ini perlu digarisbawahi. Cari sekolah yang bukan hanya klik di hati, tapi juga klik di dompet hahahaha.

Ohiya…kami menganggap bahwa orang tua dan sekolah adalah mitra dalam pengembangan potensi anak. Pola dan sistem di sekolah harus didukung dengan pola di rumah. Hal ini memberi manfaat kepada anak dalam pengembangan potensi diri. Lebih keren lagi kalau lingkungan juga mendukung.๐Ÿ™‚
Ngomong-ngomong tentang lingkungan, kondisi sekarang ini adalah tantangan terbesar bagi orang tua. Anak-anak hidup di zaman platinum alias generasi Z. Banyak hal yang mengkhawatirkan sekarang ini. Apalagi gejala-gejala intoleransi merebak.
Mengutip sebuah ayat dalam Quran agar manusia selalu berbuat kebajikan, bertakwa, dan menciptakan kedamaian di antara manusia. Oleh karena itu harapan terbesar kami untuk anak-anak adalah menjadi insan penebar kebaikan, bukan hanya kepada sesama manusia, juga kepada lingkungannya dengan potensi masing-masing.
Sekolah yang dimasuki anak-anak ini tidak berlabel islamic school, tapi keduanya menanamkan kebaikan yang bersumber dari agama Islam. Keduanya juga mengajarkan hafalan-hafalan surat dalam Quran…tapi bagiku yang paling penting bukan hanya sekedar hafalan bacaannya saja tapi yang lebih penting adalah menerapkan makna Qurani dalam hubungannya kepada sesama manusia dan lingkungan. Mereka tidak cuma hidup saat ini saja, akan ada saatnya mereka menjadi pribadi mandiri yang akan melibatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat.

Ah adalagi masalah akreditasi. TK Kelinci alhamdulillah sudah terakreditasi, nilainya A lagi.๐Ÿ™‚
Sedangkan SD Tetum Bunaya, karena sekolah baru dan baru memasuki tahun ke-4, dia belum terakreditasi. Apakah itu menjadi masalah bagi kami? Mmmmm sempat jadi pembicaraan antara kami berdua dan kembali berujung dengan harapan orang tua terhadap anak kelak. Usia SD adalah saat dimana anak perlu memahami konsep dan konsep itu akan melekat hingga mereka besar nanti. Apalagi jika sekolah dan rumah menerapkan nilai-nilai yang sama. Jadi selama sekolah memberikan output yang baik, kami tidak akan mempermasalahkan akreditasi. Pembentukan konsep dan karakter anak jauh lebih penting dari sekedar nilai akreditasi.๐Ÿ™‚

*pijit-pijit jari & tangan*
Panjang juga curcol tentang sekolah hahahaha. Mengutip arti dari kata Tetum Bunaya….tetap bertumbuhlah anak-anakku.๐Ÿ™‚ Bertumbuh menjadi insan yang baik dan mampu bersikap adil, aamiin.

Tagged: ,

§ 2 Responses to Perjalanan Mencari Sekolah

  • herliana05 says:

    huaaaa dirimu sepikiran dgn diriku cm aku ga pandai menulis dan ga pandai utk merunut permasalahan spt dirimu. ini jg lagi mikir mau nyari TK buat feli. aku rasa udah saat nya feli bersosialisasi dgn org lain. artinya dia bs merasakan kecewa, berinteraksi dgn baik dan bs menyelesaikan masalah tanpa mesti dibantu org tuanya. Harapan terlalu tinggi yak tp aku berharap ketemu sekolah spt itu hahaha

    oh ya selamat ya gina, semoga semua impian kita dan kurcacis bs tercapai

    • hahaha…daku rasa tulisanku rada mehe-mehe emang, sempet kepikiran apakah ekspektasiku itu terlalu tinggi? hihihi….ternyata sama aja ya pikiran kita :*
      aamiin aamiin…semoga Her, kalau kita yakin, pasti didekatkan jodohnya๐Ÿ˜€ eh iya daku merasakan kalau nyari sekolah itu seperti nyari jodo :))
      btw terima kasih ya say…semangat untukmyu dan kalian semua :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Perjalanan Mencari Sekolah at Napak Tilas.

meta

%d bloggers like this: